Sabtu, 30 Juni 2012

Not Demigod Not Ordinary People Too

Hari ini Bandung agak berbeda dari biasanya. Sejak kemarin ada berita kalau hari ini jalan akan ramai dengan pengawasan ketat oleh para aparat penegak hukum berseragam abu-abu,yaitu polisi dan rompi berwarna hijau juga para aparat berseragam loreng-loreng, yaitu tentara. Beredar berita juga kalau sejumlah ruas jalan tidak ditutup hanya mengalami perlambatan saja. Juga beredar pesan berantai bahwa hindari sejumlah ruas jalan agar tidak terkena macet. 

Semua itu terjadi karena satu alasan, orang nomor di Indonesia akan berkunjung ke Bandung untuk sebuah acara. Menurut berita yang terdengar bahwa Presiden akan memberikan kuliah kepada para perwira di tempat dimana ia mendapatkan ilmu seputar tentara. Kemudian mengunjungi beberapa tempat di Bandung, tentunya bukan seperti masyarakat yang hanya mengunjungi tempat hiburan dan belanja.

Sejak pagi beberapa ruas jalan yang akan dilalui si Bapak (saya menyebutnya begitu karena ayah teman saya menyebutnya seperti itu) sudah di jaga oleh banyak polisi dan tentara. Hal itu saya tau karena melihat twit teman saya yang menyebutkan kabar seperti itu. Saya tidak begitu tahu, karena saya masih dikos teman saya gara-gara numpang nonton bola di kosnya. Tapi saya benar-benar mengetahuinya ketika saya kembali ke kos saya.

Begitu masuk gang ke kosan saya, disana ada 3 polisi dan dua tentara yang sedang duduk didekat tembok masuk gang kos saya. Namun saya tidak terlalu menghiraukan karena waktu sudah mepet solat jumat dan saya harus bergegas.

Saat di masjid pun didepan saya ada 2 orang polisi yang juga menunaikan solat jumat. Yang satu sudah agak berumur, dengan tubuh yang agak tambun. Yang satu lagi lebih muda dibandingkan yang sebelumnya saya lihat, badannya lebih tinggi dan tegap.

Usai solat jumat saya langsung menuju ke sebuah tempat makan dekat dengan gang masuk kos saya. Disitu saya lihat beberapa polisi mengawasi arus lalulintas dengan memegang handy talkie di tangan kanannya. Kemudian saya mengambil nasi dan lauk untuk makan siang saya di warung itu dan memakannya.

Selagi makan, ada seorang bapak yang hendak makan juga. Dari logat bicaranya saya tahu dia orang batak. Kemudian dia sedikit memberi komentar tentang apa yang terjadi siang itu kepada ibu warung nasi. Dia bilang "SBY mau dateng aja kok kaya di dewakan, toh Presiden kan juga manusia". Saya tersenyum dan sedikit tertawa mengiyakan komentar tersebut. Kemudian dia bilang bahwa mental masyarakat kita itu suka mendewakan pemimpin, lalu ibu warung nasi menimpal bahwa bukan didewakan sih seharusnya, harusnya itu dihormati aja. Saya setuju juga dengan ibu warung nasi.

Mendengar percakapan itu saya jadi mikir, bener juga apa yang dibilang si bapak di warung nasi itu. Nampaknya memang pengawalan seperti itu seperti mengawal seorang dewa yang benar-benar harus dijaga keselamatannya. Tapi bukankah memang sudah selayaknya seorang pempimpin negara dilindungi keselamatannya? Dengan tugas berat yang selalu dipikulnya sebagai seorang kepala negara, bukankah memang hak dia untuk dilindungi saat melakukan sebuah perjalanan? Tetapi perlindungan itu baiknya tidak merugikan pengguna jalan yang lain.

Setahu saya Presiden Amerika Serikat pun memang perlindungan untuk dirinya itu gila-gilaan. Pesawat jet pribadinya bernama Air Force One saja teknologi dan segala sesuatu pembentuknya terbuat dari bahan yang tidak main-main untuk melindungi sang pemimpin negara. Kemudian mobil pribadinya pun harus selalu dibawa kemanapun dia melakukan kunjungan keluar negeri. Body mobilnya pun katanya tahan peluru dan juga kaca mobilnya yang tidak tembus peluru. Belum lagi para pengawal-pengawalnya yang selalu siap mati untuk melindungi dia.

Melihat seperti itu nampaknya wajar-wajar saja kalau tindakan pengawalannya seperti itu. Dulu saya juga pernah melihat iring-iringan wapres dan presiden lewat di Jakarta. Voorijder atau pengawal jalan raya nya saja 3 lapis. Lapis pertama, beberapa polisi dengan motor trail hitamnya melaju 500 meter didepan iring-iringan mulai menutup jalan untuk mempersilahkan iring-iringan lewat. Kemudian lapis yang kedua sekitar 200 meter didepan iring-iringan yang memantau bahwa jalan sudah benar-benar 'bersih' untuk dilewati dan dilaporkan kepada lapis pertama. Lapis pertama ini lah yang benar-benar mengawal iring-iringan ini. Terdiri dari beberapa polisi bermotor besar dan mobil patroli jalan raya dengan sirenenya yang luar biasa bisa memekakkan telinga jika mendengarnya dari dekat.

Sesudah makan, saya kembali ke kos untuk bersiap ke tempat les. Dijalan saya mulai melihat setiap 5 sampai 10 meter sekali ada polisi berjaga di pinggir jalan. Kanan, kiri bahkan di tengah jalan pun ada seorang petugas yang berjaga.

Ketika berangkat ke tempat les, tepat di gang mau keluar ke jalan raya, didepan saya berjalan dua orang terntara berseragam loreng hijau mengalungi senjata api yang mungkin jika saya tebak itu model AK, berjalan menuju keluar gang. Kedua tentara melewati beberapa petugas polisi yang sedang duduk di kursi yang disediakan untuk berjaga-jaga. Dijalan pun seperti itu, banyak sekali petugas.
Saya titip motor di kos teman kemudian jalan kaki dan naik angkot. Untuk naik angkot kami harus melalui gang kecil, yang hanya muat satu motor. Di gang itu lah saya melihat dua orang tentara yang sedang duduk mengalungi senjata api AK sedang berjaga-jaga. 

Dijalan menuju tempat les, sejauh mata memandang banyak sekali petugas yang berjaga-jaga. Sampai didepan gerbang kampus UPI pun banyak sekali polisi dan polwan yang berjaga disitu. Ada juga beberapa tentara berseragam berjaga disitu.

Jengkelnya adalah saya tidak bisa turun didepan gerbang masuk dimana saya biasa masuk ke kampus itu. Angkot diperbolehkan berenti di jalur yang tidak menghalangi iring-iringan si Bapak itu. Saya harus jalan jauh untuk mencapai ke ketempat les.
Sampai tempat les, saya telat mengikuti tes dan tidak diperbolehkan mengikuti tes. Kesal.

Memang presiden itu tidak harus didewa-dewakan seperti si bapak di warung nasi bilang itu, karena presiden juga manusia, tapi juga bukan manusia atau masyarakat biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar