Minggu, 08 Juli 2012

Turun Temurun

Kemarin sore gue, Galuh, Reza (Jiblon) dan Pitut ke Saparua jogging track buat main rollerblade. Gara-gara Galuh udah ngebet banget pengen main rollerblade dari dulu dan akhirnya kesampaian sore kemarin. Untungnya rental rollerblade nya buka, walaupun tracknya dipake buat anak-anak kecil yang les rollerblade. Mungkin mereka calon atlet rollerblade yang akan mengharumkan nama bangsa suatu saat nanti.
Tak lama, datanglah Aan. Tapi dia gak main rollerblade sama seperti si Pitut.

Hampir magrib,jam rental pun selesai. Galuh gak mau pulang ke  kosan, begitu pula Aan. Jadi kita harus mencari tempat untuk duduk-duduk santai selain di Saparua. Galuh gak pengen pulang, Jiblon pengen minum sesuatu yang memakai es, Pitut juga kaya Jiblon ditambah ngemil, Aan gak pengen pulang juga. Gue harus putar otak mau kemana, secara gue yang sering kelayapan kulineran. Setelah menelusuri jalan sekitar jalan riau dengan otak gue, tersebutlah Roti Gempol yang pernah dikunjungi Galuh bersama teman-teman medkom nya. We got the deal.

Setelah menelusuri jalan magrib-magrib yang ternyata Galuh gak inget jalannya sehingga Aan tampak mulai kesal dan bertanya sana sini, tibalah kita disebuah rumah bergarasi yang didesain seperti toko roti. Diatasnya ada tulisan Roti Gempol. Dan terlihat seorang ibu tua berbaju putih dengan rambut yang beruban sedang duduk di sofa dan didepannya ada tongkat jalan, menunjukkan bahwa ia memang sudah cukup renta. Turun dari motor, masuk ke toko, pesan makanan, dan gue penasaran pengen tau cerita roti ini dari si ibu tua tersebut karena tertulis di menu: Roti Gempol Sejak 1958. Akhirnya gue ngobrol sama si ibu tersebut dan beliau menceritakan sejarahnya. Dan cerita pun dimulai.

Roti Gempol. Terletak di jalan Gempol Wetan no 14. Seperti yang gue jelasin tadi, bahwa itu adalah rumah yang garasinya didesain seperti toko roti, dengan etalase roti-roti di sisi sebelah kanan, dan sofa panjang di sisi sebelah kiri. Menurut cerita si Ibu itu, roti ini memang sudah sejak 1958 di Bandung, di jalan Gempol Wetan ini. Tadinya roti ini berasal dari Salatiga, Jawa Tengah. Dirintis oleh kakek dari si Ibu itu, sejak sebelum 1958. Nama awalnya adalah Roti Lip Oor. Namanya berasal dari bahasa Belanda, Lip berarti bibir dan Oor berarti telinga. Filosofinya adalah roti ini enak di mulut, kemudian orang yang sudah pernah mencoba roti ini menceritakan enak nya roti ini ke orang lain, dalam bahasa marketing disebut Word Of Mouth.


Kemudian si Ibu pindah ke Bandung tahun 1958, tetapi pabrik produksinya tetap di Salatiga. Dikarenakan mengirim roti dari Salatiga biayanya besar dan resiko kualitas roti yang bagus tidak memakai bahan pengawet yang hanya bertahan empat hari, jadi di Bandung, di rumah itu buat pabrik roti. Pegawainya dari anak kuliahan yang ingin kerja sambilan. Masih tradisional tanpa mesin. Bahan bakunya juga tidak menggunakan air, tetapi pakai susu murni.

Seiring berjalan waktu, si Ibu mencoba membuat produk lain selain roti, yaitu bakmi. Mungkin karena bahan dasar roti dan mie itu sama. Namun selang berapa lama, roti pun yang menjadi primadona nya. Dan sejak dua tahun lalu, si Ibu berinovasi dengan roti bakar, seperti yang kami pesan saat itu.

Yang kami pesan malam itu adalah roti bakar gandum komplit asin ririungan. Lumayan panjang ya namanya. Jadi itu adalah roti gandung yang di bakar dengan isi komplit yaitu keju, ham sapi, telur dan mayonaise. Ririungan adalah istilah sunda dari kata riung yang berarti ramai, jadi ririungan berarti beramai-ramai. Ya, porsi nya besar jadi bisa untuk makan beramai-ramai.


 
Satu porsi roti bakar gandum komplit asin ririungan disajikan di dua piring, satu piringnya dibagi 5 potong, jadi satu porsi nya ada 10 potong. Pendamping roti itu adalah saus sambal yang dibeli langsung dari Jakarta. Tempat saus sambal nya juga unik, seperti jerigen dalam ukuran mini.  Tapi rasa sambalnya memang cocok sekali berdampingan dengan roti bakar itu.

Kita berlima, dengan satu porsi 10 potong jadi pas satu orang dua potong. Gue udah kekenyangan makan dua potong, tapi Aan pesen satu porsi lagi. Malam itu, 20 potong besar kami pesan. Gue udah gak kuat makan lagi, cuma ngambil satu potong dari 10 potong yang kedua. Bener-bener gak kuat.

Selagi makan si ibu tanya kita kuliah semester berapa dan Galuh menjawab kita semester akhir. Dan ibu itu tanya lagi kita orang Bandung atau bukan, dan kita jawab beda-beda.  Aan dari Makassar, Galuh dan Jiblon dari Depok, Pitut dari Bogor dan gue dari Bekasi. Mendengar gue dari Bekasi, si Ibu tanya Bekasi nya dimana? Gue jawab di Bintara, dekat Kranji. Si Ibu cerita bahwa dia juga pernah tinggal di Bekasi, di daerah proyek. Wah seneng juga gue.

Oh iya, si Ibu juga cerita dia pernah ketemu temen masa kuliahnya yang udah puluhan tahun gak ketemu  di toko nya ini. Dia bilang, "memang kalo udah lulus kuliah, kerja, dan berkeluarga pasti sudah jarang ketemu. Kalian juga nanti kaya begitu". Kemudian kami terhenyak sesaat.

Gak mau berlama-lama disana, kami menyegerakan untuk bayar dan pulang.

Ternyata roti turun temurun dari tahun dimana gue melihat angka itu dibuku sejarah, itu enak banget. Dengan paduan inovasi masa kini, menjadi makanan yang super sekali untuk dinikmati.Terima kasih Ibu tua pemilik Roti Gempol atas kudapan yang lezat dan cerita asal muasal Roti Gempol nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar