Ya, sejak dua bulan yang lalu gue les TOEFL di Balai Bahasa di sebuah universitas negeri yang ada di Bandung. Sebenernya bukan niat gue sih les TOEFL, diajak Galuh tepatnya. Karena dia pengen banget les TOEFL. Bersama Mpik tadinya dan gue mulai tertarik karena sebelumnya gue belom pernah ikutan les TOEFL. Alasan lainnya karena udah mau lulus dan kemungkinan untuk melamar kerja nanti beberapa perusahaan minta score TOEFL nya. Mungkin karena sekarang era globalisasi yang tampaknya bahasa inggris adalah bahasa universal. Gue ambil kelas yang hari selasa, rabu dan jumat, jam satu siang sampai setengah empat sore.
Pertama masuk itu, gue udah dateng telat karena sebelumnya gue, Mpik dan Pitut ada kuliah. Sedangkan Galuh udah berangkat duluan.
Sampai sana, gue dihadapkan langsung dengan tes awal. Mungkin untuk mengetahui nanti ada perkembangan atau tidak. Menghadapi lembar jawaban yang harus mengisinya dengan cara membulatkan pada pilihan jawaban yang tertera di lembar jawaban semacam ujian anak sekolahan. Halo, lama tak bersua lembar jawaban seperti ini.
Dua jam berlalu,tes usai. Gue gak tau apa yang gue isi tadi, yang pasti bagian Listening itu gue gak terlalu bisa, entah audionya yang buruk atau pendengaran gue yang buruk. Bagian Structure gue paling bodoh. Tapi bagian Reading gue yakin bisa, secara cuma baca teks doang. Satu lagi bagian yang sangat sulit dalam tes itu adalah ruangan yang dinginnya minta ampun, sehingga gue harus buru-buru ngerjain biar terlepas dari ruangan yang bisa membuat gue dalam keadaan hipotermik.
Esoknya, les mulai seperti biasa. Jadwal hari rabu adalah structure. Adalah pak Pupung Purnawarman pengajar structure kami. Perawakannya seperti bapak-bapak biasa pada umumnya. Tidak terlalu tinggi, tubuh agak tambun sedikit, rambut nya yang agak jigrak namun rapi.
Seperti biasa dan pada umumnya, pasti ada yang namanya perkenalan dari setiap orang. Dia memperkenalkan diri dan kami muridnya memperkenalkan diri satu persatu. Ternyata pak Pupung belum lama ini baru kembali dari USA. Selanjutnya perkenalan murid dari yang paling depan sampai ke belakang. Tentunya gue mendapat giliran menjelang terakhir karena duduk di belakang.
Mengesankan sekali orang-orang yang ada didalam kelas itu. Ada yang sudah bekerja menjadi seorang dokter dan dia ikut les karena mau ngambil gelar Ph.D. Ada yang ikut les karena ingin mengambil beasiswa S2, ada yang buat kerja. Ada seorang ibu-ibu yang berprofesi sebagai guru, ada juga ibu-ibu lainnya yang berprofesi sebagai dosen. Tapi yang paling banyak adalah mahasiswa, baik mahasiswa universitas yang menyediakan balai bahasa itu mapun mahasiswa luar.
Dari perkenalan itu sepertinya hanya Galuh yang menjadi pusat perhatian dari pak Pupung. Karena dia berasal dari Depok dan ada seorang teman satu kampus tapi gue gak kenal, juga berasal dari Depok. Setiap absen, pasti Galuh selalu dibilang 'yang dari Depok'.
Hari jumatnya, jadwal reading. Pengajarnya bernama pak Andrian. Entah harus di panggil pak atau kang atau mas atau kak, karena perawakannya seperti masih muda. Namun Mpik ternyata memperhatikan jemarinya yang sudah ada cincin. Orangnya agak kurus, berbehel, dan sepertinya kalo ngomong seperti mau ketawa tapi ditahan. Kadang suka menyingsingkan lengan batik pendeknya, kalau sebutan saya itu model baju jangkis.
Selasanya, jadwal listening. Ternyata pengajarnya adalah orang yang menjadi pengawas sewaktu pre-test pertama kali. Namanya pak Eka. Sama seperti pak Andrian, tidak terlalu tua mukanya, masih muda. Lagi-lagi ketiga teman cewe gue itu melihat dengan seksama jemarinya, dan sudah ada cincin. Bahkan Mpik pernah niat banget mencari akun facebooknya pengajar bermuka masih muda itu. Hebatnya ketemu.
Pak Eka ini adalah pengajar yang saya suka cara mengajarnya dan impressionnya dia saat mengajar. Selalu tersenyum dan memang murah tersenyum. Senyumnya itu ikhlas banget kalo gue liat. Khasnya dia adalah suaranya yang cadel huruf R.
Setiap selasa, rabu dan jumat siang pasti kita berangkat ke tempat les barengan ber empat. Tapi sudah jelas berangkatnya telat. Kadang baru sampai tempat les jam setengah 2, yang paling telat itu sampai sana jam 2. Entah selalu saja ada kegiatan yang memaksa untuk terlambat. Makan siang lah, belum siap lah. Tapi kalau lagi males, pasti gak masuk dan malah jalan-jalan ke mall. Dasar masih menyimpan jiwa anak sekolahan.
Ada satu kejadian menarik saat gue berangkat les sendirian. Pitut gak les karena lagi bete sama Iqw, Galuh dan Mpik yang ada acara sama jurusannya. Gue duduk disebelah cowo yang namanya Dicky,tapi skip satu bangku. Dan gak nyangkanya si Mpik dateng ke tempat les dan duduk diantara gue dan Dicky itu.
Pas lagi les, si Mpik minjem pulpen ke gue tapi gak ada dan dengan polosnya pinjem ke si Dicky. Sejak saat itu gue ngecengin si Mpik sama si Dicky. Udah gitu selang beberapa lama, Mpik dikasih permen sama Dicky. Makin menjadi jiwa iseng gue.
Ternyata si Mpik kesemsem sama Dicky. Mulailah jiwa kepo gue menelusuri akun sosial media dia. Dan ketemu! Tapi ternyata si Dicky udah ngeadd FB mpik duluan. Ah, gue kecolongan! Tapi makin kesini ternyata si Dicky mulai melancarkan pendekatan ke Mpik, secara media pastinya. Untuk secara langsung seperti nyapa di tempat les, dia masih gak berani.
Baru-baru ini ternyata mereka udah jalan bareng, ketempat makan doang tentunya.
Hari ini, terkahir gue les dan jumatnya mulai tes. Gak terasa sekali. Kegiatan baru gue udah hilang satu. Tapi selanjutnya pasti akan ada kegiatan lainnya. Semoga hasil test gue bagus, mencapai 500. Perkara hubungan Mpik dan Dicky? Entahlah. Biar mereka yang menentukan jalan kisahnya sendiri. Dan yang pasti setiap kegiatan yang gue lalui, seperti les yang kadang males-malesan dan selalu ada alasan buat ngeles gak dateng les,gue tetep menjalaninya dengan woles. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar