Entah darimana kata itu berasal sehingga menjadi sebuah 'cap' bagi orang-orang tersebut.
Ya, Alay.
Darimana kata-kata itu diciptakan.
Sepengetahuan saya mengenai alay dimulai dari sewaktu saya masih sekolah menengah pertama.
Saya dengan teman saya pergi ke sebuah jalan baru di dekat komplek rumah. Berhubung jalanan masih sepi dari kendaraan, maka saya dan teman memutuskan untuk bermain layang-layang di pinggir jalan tersebut. Ketika saya bermain layangan, ada teman saya lagi datang menghampiri dan agak mengejek kami dengan kata-kata 'Anak Layangan'. Kami tidak begitu tersinggung karena memang kami yang tidak punya kegiatan sehingga bermain layangan dan teman kami itu dalam keadaan bercanda. Kemudian selesai bermain layangan cukup lama, rambut kami agak kemerahan warnanya. Mungkin disebabkan terbakar cahaya matahari siang.
Sewaktu mandi saya memikirkan kata-kata teman saya yaitu 'Anak Layangan'. Anak-anak yang suka bermain layangan rela bermain sampai rambutnya menjadi berwarna kemerahan dan mengejar-ngejar layangan yang putus sampai berteriak-teriak. Mungkin kalau saya singkat anak layangan tersebut menjadi Alay. Sejak itu saya jadi beranggapan kalau anak yang rambutnya berwarna kemerahan pasti suka bermain layangan atau disebutnya anak layangan atau alay.
Kemudian beranjak ke sekolah menengah akhir saya satu sekolah lagi dengan teman saya yang ikut bermain layangan seperti yang saya ceritakan di atas. Kami berteman dengan banyak orang satu sekolah. Dan saya mendapat istilah lain lagi, yaitu ancam.
Ancam adalah singkatan dari dua suku kata yaitu anak dan campuang. Sebenarnya sih anak kampung, cuma waktu itu suka diplesetkan pelafalannya dan penyederhanaan pelafalan. Kalau ankam agak kaku dalam menyebutkannya jadi dibuatlah ancam.
Ancam mendeskripsikan seseorang yang perilakunya seperti anak kampung yang norak dan kadang seperti ciri-ciri alay, ngomong suka teriak teriak. Dan juga melihat dandanan orang tersebut kampungan. Kenapa kampungan, karena sekolah saya masuk ke dalam komplek yang malah terlihat seperti kampung.
Melihat dari segi dandanan maka ada lagi penyempurnaan dari kata ancam tersebut, yaitu bateng dan masteng. Kalau bateng kepanjangannya adalah mba-mba tengik dan masteng adalah mas-mas tengik. Sebenarnya sih kata tengik itu bukan dari baunya, tetapi kearah visualisasinya.
Mba-mba tengik saya mendeskripsikannya adalah dimana seorang perempuan yang dandananya agak maksa bahkan terlalu maksa. Entah pakaiannya ataupun riasan wajahnya. Pakaian yang tidak cocok dengan wajah sampai riasan wajah yang terlalu menor menutupi wajah aslinya.
Mas-mas tengik hampir sama dengan mba-mba tengik. Cuma kalau mas-mas tengik tidak dengan riasan wajah tetapi lebih ke arah pakaian dan gaya rambutnya.
Maka setiap saya jalan melihat salah satu ciri yang diatas saya menyebutnya bateng atau masteng. Tapi hanya saya ucapkan dalam hati.
Melihat kesamaan antara alay, ancam, bateng/masteng, saya jadi menyimpulkan bagaimana kalau disatukan menjadi satu, yaitu alay.
Kemudian teknologi makin berkembang. Informasi semakin komplek. Begitu juga dengan alat komunikasi. Salah satunya handphone(HP).
Makin banyak orang yang memakai HP. Mungkin sebagian orang beranggapan kalau tidak memakai HP dianggap tidak mengikuti zaman. Salah satu layanan dari HP adalah SMS.
Pengiriman pesan singkat ini paling sering digunakan pada zamannya. Secara teknik SMS adalah untuk mengirim pesan singkat, oleh karena itu pesan yang dikirimkan disingkat sesingkat mungkin agar biaya yang dikeluarkan tidak besar.
Mungkin kalau bahasa yang disingkat seperti: bahasa menjadi bhs, itu masih bisa dibaca. Tetapi kalau bhs disingkat menjadi bh5 pengartiannya akan lain.
Entah dari mana datangnya angka dijadikan simbol sebuah huruf.
Segelintir orang memakai angka sebagai penggati salah satu dari 26 abjad. Misalkan S mejadi 5, G menjadi 6. Mulai dari sini banyak orang yang semakin 'kreatif'. Menggunakan tanda baca sebagai pengganti huruf yaitu i menjadi !. Dan yang paling sering digunakan adalah huruf besar kecil seperti, iNi IbU bUdI.
Bagi orang yang tidak biasa membaca tulisan seperti ini akan merasa bingung, bahkan bisa sampai menganggap si pengirim kampungan. Nah, dari anggapan tersebut disamakan dengan ancam atau alay. Dan sampai sekarang pun jika ada yang memakai tulisan seperti itu mungkin akan dianggap alay.
Sekarang setiap orang mendeskripsikan alay dari masing-masing persepsi. Mereka bebas mengkritik asal tidak menyakiti orang yang mereka anggap alay. Mungkin orang-orang alay tersebut merasa mereka tidak alay, karena mereka berperilaku sesuai apa yang mereka anggap nyaman.
Kita masing-masing mempunyai hak untuk melakukan apa yang kita anggap nyaman selama itu tidak merugikan orang lain. Alay tidak salah, dan orang yang menganggap alay juga tidak salah.
Kita itu sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar