Musim berita musim lawakan.
Membaca berita sekarang tak ayalnya membaca tulisan humor. Menonton berita tak ayal melihat ketoprak. Mendengar berita tak ayalnya mendengar guyonan.
Semua informasi diputar-putar, diolah sedemikian rupa layaknya skenario dalam cerita lawak.
Tak jarang kita tersenyum melihat berita yang beredar di media seperti melihat cerita humor, bahkan tertawa.
Pelaku berita diluar seperti lakon humor yang dipentaskan diatas panggung. Pergi lalu datang lagi di sketsa berikutnya. Membicarakan hal lain tapi intinya itu-itu saja.
Sang pemburu berita seperti asisten pembuat skenario, menyumbangkan pertanyaan yang akan menjadi alur cerita. Kalau bagus ya dijadikan masukan untuk menyambung ke cerita yang lain, tapi sekali lagi masih berada dalam tema yang sama.
Cerita yang paling sering muncul sih cerita politik. Layaknya humor segar yang bikin orang penasaran akan kelanjutannya, politik juga bisa membuat orang dag dig dug oleh kelanjutan ceritanya. Pemerannya banyak,tak takut akan kehabisan peran. Setiap orang pasti akan dapat perannya tanpa harus ikut casting. Banyak peran figuran yang bisa di ikuti oleh setiap orang, asal bisa ber improvisasi di atas panggung. Kalau aktingnya bagus, figuran tersebut bakal dapat arahan dari asisten pembuat skenario, dan bukan tidak mungkin dia akan menjadi pemain tetap dalam alur cerita.
Bicara manusia, bicara sosial, bicara berkelompok, bicara kelompokan.
Nah biar seru ceritanya kaya di cerita wayang humor, di bikin lah pasukan buat meramaikan cerita. Tapi kalau pasukan ini sih bukan sekedar meramaikan, betul-betul bikin rame.
Liat aja perannya, alur cerita udah dipersempit karena udah hampir sampe klimaks, eh masuk lah pasukan itu bikin rame. Gimana ga mau panjang ceritanya kalo makin banyak figuran yang masuk. Ya ga bakal selesai-selesai donk ceritanya.
Yang namanya pasukan pasti ada komandannya. Nah komandannya ini yang paling penting dalam menentukan arah laju pasukan ini. Kalo komandannya bener, pasti ga bakal main serang aja. Kalo ga bener, ya anda sekalian bisa melihat dan menilai.
Cerita belum selesai, pindah ke sketsa lainnya. Cerita baru muncul udah jalan setengah cerita eh ada muncul lagi cerita yang lama. Trus, cara nyelesain 2 cerita ini gimana? Selesain cerita yang pertama dulu baru yang kedua diselesain? Selesain cerita yang kedua dulu baru balik selesain cerita yang pertama? Apa mau barengan nyelesain cerita keduanya? Kalo berantakan? Kita lagi sebagai penonton yang hanya bisa tersenyum melihatnya.
Dunia ini tidak akan berhenti berputar dan menghasilkan cerita yang akan diceritakan kembali oleh penerus kita nantinya. Dan cerita-cerita ini lah yang kadang membuat kita tersenyum, melihat kembali siapa kita, dan peran apakah yang kita dapat Di Atas Panggung Supermegah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar