Ingin sekali keluar dari zona nyaman dan bertindak keluar dari sesuatu yang dikarenakan bawaan darah. Namun "kutukan" ini selalu saja menahan semuanya. Hingga akhirnya gagal keluar.
Diam.
Dan semuanya hanya dapat terpendam dalam-dalam tanpa terungkapkan.
Tapi, setelah dipikir-pikir mungkin diam lah satu-satunya cara saya mengungkapkannya.
Tidak perlu dia tahu, tidak perlu dia menjawab, dan (mungkin) tidak perlu dia merasakannya juga.
Menatap dalam-dalam matanya menimbulkan perdebatan yang alot, pertempuran batin yang singkat namun menyiksa di dalam hati dan pikiran ini.
Diam.
Agar semua tak berantakan.
Diam.
Dan aku tersiksa.
Diam.
Dan dia akan tenang.
Diam.
Dan mereka takkan mengerti.
Diam.
Dan aku kan damai.
Diam.
Dan aku kan mengerti.
Diam.
Dan aku bahagia dalam sendiriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar