Sebetulnya gue juga agak kurang paham sih ini emang kebetulan doang apa emang bener ada sesuatu di balik dari sesuatu. Bingung gue kebanyakan sesuatunya dan agak males juga gue kalo kebanyakan ngomong sesuatu entar disamain sama artis si bulu mata khatulistiwa atau jambul anti badai itu.
Yah kita sebut saja sebuah angka dari satu sampai sepuluh yaitu empat. Ada apa dengan angka empat ini? Standar paling tinggi dari sebuah indeks prestasi (IP)? Ah ga usah bahas-bahas IP deh mendingan, agak gimana gitu dengernya. Mendingan bahas yang lain dari angka empat ini.
Pernah sempet kepikirian angka empat ini jarang muncul atau bahkan mungkin tidak pernah muncul di nomor seri/jenis dari salah satu sebuah merk handphone terkenal, sebut saja Nokia. Karena dari sepengamatan konyol gue, Nokia gak pernah pake angka empat di setiap produk handphone nya.
Di lain hal, angka empat dalam suatu kepercayaan itu berarti kematian. Atau di salah satu negara juga ada kepercayaan mirip seperti itu karena pelafalannya mirip dengan kematian atau kesialan. Only God knows.
Terlepas dari semua itu, gue bukan mau membahas masalah nomer yang gak pernah dipake di produk handphone Nokia atau kepercayaan dari angka empat itu. Yang akan gue bahas disini adalah pengalaman di angka empat itu, ehem, percintaan sih tepatnya.
Jadi ceritanya gue mengalami dua hal yang mirip yang rada-rada didasari dengan angka empat ini, tentunya tanpa teori. Dua kali gue mengalami sesuatu hal yang gagal didalam menjalani hubungan dengan perempuan. Dua kali gue 'nembak' cewe di tanggal empat.
Oke yang pertama, gue pernah jadian dengan Nidia. Gue nembak dia di tanggal empat. Gue berani nembak dia karena gue pikir dia udah dan pengen move on dari mantannya. Gak langsung diterima saat itu juga sih, tiga hari setelahnya baru diterima yaitu tanggal tujuh. Gue pikir karena nomer kesukaan gue tujuh, bakalan berjalan mulus, ternyata tidak. Gue putus di tanggal tiga. Alasan putusnya sih dia bilang dia belum bisa membuka hati. Jikalau gue tafsirkan sebenernya dia belum bisa move on dari mantannya.
Yang kedua, gue pernah jadian dengan Nela, temen SMP gue sendiri. Putus belum lama ini. Gue juga nembak dia di tanggal empat. Bedanya dengan kisah si Nidia, gue langsung diterima saat itu juga. Gue nembak dia karena gue yakin dia udah move on dari mantannya yang udah putus baru beberapa bulan. Karena setiap perbincangan, kata-katanya meyakinkan gue. Gue yakin, dan ternyata gue salah lagi. Gue diputusin. Anehnya diputusinnya hebat banget. Dia sakit dan dia bilang pas sakit udah gak ada rasa apa-apa sama gue. Ilang gitu aja. Tapi yang gue tafsirkan, dia pasti belum bisa move on dari mantannya. Gue yakin dia belum move on.
Yap, kemiripannya itu gue nembak mereka dengan angka empat yang menyertainya. Namanya sama-sama dari N, dan gue diputusinnya atas dasar mereka belum move on. Gue ketipu.
Yang gue pelajarin, menjalani hubungan dengan orang yang belum bisa move on dari mantannya itu berat dan rada-rada menyakitkan. Tapi untungnya gue udah punya satu pengalaman, jadi untuk case yang kedua itu gue gak down banget. Mungkin juga karena udah dikasih saran sama temen gue.
Jadi itu lah mengapa gue bilang tepu empat. Gue ketipu. Semoga jadi pembelajaran. Masalah angka empat, itu gue masih gak tau. Mungkin sebaiknya di yang akan datang gue akan menghindarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar