Senin, 15 Oktober 2012

Dua Ribu.

Siang itu gue sedang dalam perjalanan pulang dari kampus gue yang jaraknya 20 kilometer dari tempat kos gue. Jadi kalo dihitung pulang pergi itu totalnya kira-kira 40 kilometer. Dengan kondisi cuaca yang panas banget, gue mengendarai motor gue.

Di lampu merah perempatan Paskal-Pasteur-Sukajadi, gue berhenti persis di area RHK (Ruang Henti Khusus) sepeda motor yang aspalnya dicat berwarna merah dan ada gambar orang bersepda motor juga. Detik penghitung mundur menunjukkan angka 100, itu artinya harus menunggu 100 detik lalu lampu hijau menyala dan gue jalan.

Sedang menikmati waktu menunggu itu, ada seorang anak kecil ditengah jalan persis didepan area RHK dimana gue berhenti sedang menyuruh seekor monyet kecil peliharaannya beratraksi didepan para pengendara motor dan mobil didepannya. Monyet kecil itu dirantai di leher kemudian sang anak kecil sebagai seorang 'pengendara' monyet tersebut. Apa yang diperintahkan anak kecil itu si monyet pasti mengikuti. Waktu itu si monyet sedang bermain engrang mini yang terbuat dari kayu tipis dan kecil. Sesekali dia terjatuh, namun beratraksi lagi. Yang keren menurut saya adalah dia berjalan handstand.

Setelah pertunjukkan tersebut selesai, si anak memanggil si monyet dan si monyet langsung naik ke pundaknya. Dengan membawa sebuah celengan plastik yang sudah dipotong atasnya, si anak kecil tersebut mulai mendatangi kami para pengendara motor yang ada di ruang RHK sambil menyodorkan celengan plastik tersebut. Ya, dia meminta uang.

Sambil menunggu giliran saya didatangi anak kecil tersebut, saya sudah mempersiapkan uang dua ribu rupiah di genggaman saya. Saya melihatnya sepanjang ia mendatangi pengendara motor yang lain. Begitu sampai didepan saya, saya langsung kasih uang yang telah saya siapkan dan dia tersenyum sembari bilang: hatur nuhun a'. Saya tersenyum balik dan bilang: sami-sami.

Saya melihat wajah yang senang ketika ia mendapat uang tersebut, dari saya juga dari pengendara yang lain. Saya juga ikut senang melihatnya.

Disisi lain saya harus sedikit melanggar apa yang sudah saya pegang, semacam prinsip. Tidak memberi uang kepada anak jalanan. Ya, anak-anak yang "bekerja" di jalanan. Pengamen, pengemis, dan lainnya yang mengharuskan anak-anak menengadahkan tangannya kepada para pengendara di jalanan ketika lampu merah. Karena menurut saya, semakin mereka sering diberi uang maka semakin betah pula mereka dijalanan. Seperti kata seorang tokoh yang saya lupa namanya, ia berkata semakin sering ia mendapatkan uang dijalan maka pikirannya akan terbentuk secara otomatis bahwa mudah mencari uang dijalan.

Di pikiran saya, untuk apa uang yang mereka dapat dijalan?  Biaya sekolah? Biaya membantu hidup keluarganya? Atau biaya untuk "boss" yang mencengkeram mereka?

Segala spekulasi jawaban atas pertanyaan itu selalu muncul ketika melihat mereka "bekerja". Pun kalau ingin beramal kepada anak-anak yang tidak mampu, sebetulnya yang paling bagus adalah langsung memberi bantuan kepada lembaga yang mengurus anak-anak seperti mereka. Rasanya lebih tepat sasaran dan rasanya tidak akan disalah-gunakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar